el nino…

Pos Kupang tgl 1 September 2009, hal 20 saya membaca artikel tentang Pemkab Sumba Tengah (Sumteng) merencanakan gerakan kembali ke kebun sebagai upaya antisipasi dampak el nino.

El nino dapat dijelaskan dalam berbagai kalimat panjang, tapi bagi saya el nino berarti satu yaitu “kemarau panjang”, silahkan anda mencari definisi el nino dari literatur mana saja, karena definisi saya hanya sebuah definisi sederhana yang tidak ilmiah.

Kembali ke artikel pada Pos Kupang.
Gerakan ini pada intinya bertujuan agar masyarakat sadar akan pentingnya persediaan pangan lokal seperti umbi2an, kacang2an, pisang dll yang merupakan pangan setempat selain nasi.

Menurut Wakil Bupati Sumteng, Umbu Dondu, program ini dilakukan untuk memanfaatkan lahan yang ada guna menanam berbagai tanaman lokal agar stock makanan warga tetap tersedia pada saat el nino datang. Mengenai sumber air beliau mengusulkan agar dapat memanfaatkan air sungai, sumur bor dan danau.

Beliau juga menyatakan bahwa masalah ketersediaan pangan merupakan suatu budaya turun temurun. Semenjak dahulu kala, nenek moyang tidak mengenal Raskin, PKH, BLT. Tetapi mereka menanam umbi2an, jagung, kacang2an dan pisang pada lahan yang tersedia. Hanya saja sekarang ini kebanyakan warga telah terlena dengan berbagai program pemerintah sehingga masyarakat mulai malas berusaha di kebun.

Beliau dan Bupati akan turun ke desa untuk monitoring langsung program ini, dan juga memanfaatkan petugas penyuluhan lapangan (PPL) untuk memberikan pendampingan teknis untuk menjamin hasil produk pertanian yang memuaskan petani.

———————————

Yah Pemda dapat saja mengalokasikan anggaran (APBD) jika memang sudah ada anggarannya, jikapun tidak mungkin akan ada anggaran cadangan, namun hal itu tidak akan pernah cukup untuk memulihkan dampak el nino. Upaya penanggulangan harus dilakukan dari dua sisi, top-down dan bottom up. Pemkab menyiapkan kebijakan, dana dan anggaran, masyarakat berupaya melakukan pencegahan dan persiapan secara swadaya dan berkesinambungan. Keduanya upaya akan bertemu dan saling mengisi dalam upaya positif ini.
Kembali ke kebun bagi masyarakat petani, kembali ke laut bagi nelayan.

Bagaimanapun, mencegah akan selalu lebih baik dari mengobati.

Mungkin salah satu solusi dari masalah el nino terdapat pada harian yang sama dan edisi yang sama, yaitu di halaman 3. Dimana terdapat 2 buah artikel yang membahas tentang budi daya rumput laut. Di artikel kedua terdapat nara sumber bernama Jolis Nggadas yang menyatakan “Awalnya saya hanya ingin mencoba usaha rumput laut, kemudian menjadi ketagihan karena hasilnya sudah kami rasakan”. Nggadas yang juga ketua RT di Desa Tablolong Kupang Barat, berusaha rumput laut sejak tahun 2000. Dari hasil usaha itulah ia bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.

Yah mungkin saya hanya menjual ide, kutip sana-sini kemudian memformulasikan solusi yang dangkal. Namun usaha rumput laut tidak mengenal istilah kekeringan atau musim kemarau, setidaknya begitulah logika saya (CMIIW).

Yang beda disini adalah ketekunan dan pemeliharaan yang kontinu. Mungkin sebagian masyarakat senang menanam ubi atau jagung, karena tidak perlu pemeliharaan yang sulit, tampaknya tidak demikian dengan usaha rumput laut. Namun apapun jenis usaha yang masyarakat lakukan, jika itu dapat menciptakan ketahanan pangan untuk menghadapi el nino, yah silahkan dilaksanakan, namun jika tidak menghasilkan seperti yang diharapkan, mengapa tidak mencoba peruntungan dengan usaha lain yang memerlukan ketekunan namun hasilnya memuaskan.

salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s