Tenun ikat NTT bergeliat

Hanya sebuah artikel pendek yang terselip di Harian Pos Kupang edisi Sabtu 29 Agustus 2009. Tajuk artikelnya lumayan inspirasional. “Target Rebut Pasar Malaysia” dimana dituturkan bahwa Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT bertekad merebut pasar Malaysia untuk menjual busana muslimah modifikasi tenun ikat NTT.

tenun ikat NTT
*gambar dari langitperempuan.com.

Tokoh yang berbicara adalah Dra. Elisabeth Ugut, selaku ketua panitia lomba desain dan cipta busana muslimah modifikasi tenunan NTT yang menghadirkan desainer busana muslimah nasional Ida Leman. Lomba ini sendiri berlangsung tanggal 12 September 2009 nanti, yang rencananya akan diikuti oleh 32 peserta dari NTT.

Rencana Dekranasda untuk merebut pangsa pasar di Malaysia dan bahkan berencana menembus pasar Arab Saudi patut di acungi jempol. Mengidentifikasi celah pasar merupakan keahlian seorang entreprenur, memanfaatkan celah pasar merupakan keahlian seorang saudagar. Rencana Dekranasda ini sudah sepatutnya didukung oleh segenap pihak.

Mungkin saya sendiri belum punya baju batik dengan corak tenun ikat khas NTT sebagai baju resmi yang sering digunakan pejabat dalam acara-acara formal. Mungkin saya juga ingin berpartisipasi dalam promosi budaya dengan mengenakan T-shirt dengan corak NTT, mungkin saya ingin memberi souvenir sahabat-sahabat saya kain tenun ikat.

Jika kita pernah ke Malioboro di Jogja sana, kita akan dengan mudah mendapatkan berbagai macam pilihan souvenir dengan ciri batik Jogja, informasi tempat-tempat wisata, gambar benda-benda antik dlsb dapat kita dapati dengan harga yang cukup terjangkau.

Dibutuhkan campur tangan seorang entreprenur yang dapat mengemas corak tenun ikat NTT dalam bentuk yang lebih inklusif dan dapat diadaptasi dalam bermacam benda sandang sebagai souvenir dlsb.
Saya rasa hal ini tidak sulit ditemukan, yang sulit ditemukan adalah, campur tangan kalangan pengusaha untuk mengembangkan bisnis ini.

Mungkin sulit menemukan pengusaha yang berani mengambil resiko sepinya animo pasar atas komoditas budaya seperti ini, tapi saya yakin, akan ada pengusaha yang tidak selalu berpegang pada prinsip ekonomi, khususnya jika menyangkut kebanggaan, harga diri dan pengabdian pada leluhur dengan melestarikan budaya dalam kemasan modern.

Bercermin kepada seorang entreprenur dan pengusaha sukses asal Pulau Dewata. Mungkin kita beranggapan bahwa Joger terlalu “kolot” karena tidak membuka outlet, cabang ataupun frenchise produknya, karena secara linear ekonomis, bertambahnya outlet atau cabang akan melipatgandakan keuntungan. Tapi Joger punya alasan sendiri, lagipula siapa yang dapat mengatakan dengan ke”kolot”annya itu beliau tidak sukses?

Salam.

Related link:
alfonsadeflores.com

2 responses to “Tenun ikat NTT bergeliat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s